Senin, 24 Mei 2010

.................

kangen ma potongan episode kemarin,
pengen di flash back bentar..

Label:

Ijinkan Aku Cuti dari Dakwah

Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan. Dan juga masa depan serta kesibukannku sebagai seorang mahasiswi pasca sarjana dan seorang istri. Benar-benar merasa sepertinya tidak punya waktu lagi untuk berdakwah.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang ku cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep muntiz yang sering diceritakan sebagai sesuatu yang hebat? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Dimanakah konsep yang disebut ukhuwah? Kalau dulu, sebelum bekerja jika ada seorang ikhwah melontarkannya kata-kata “afwan ukh, ana gak bisa bantu banyak…” atau sms yang berbunyi “afwan ukh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…” atau kata-kata berawalan “afwan ukh…” lainnya dengan seribu satu alasan tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya, dan hal ini.yang membuatku merasa agak jengkel, dan pada akhirnya berbuntut pemakluman. Itulah diriku yang duluw, tapi sekarang, merasa diri malah yang melakukan itu. Sering banget meninggalkan agenda-agenda dakwah. Hanya alasan kesibukan, dan adaptasi diri sebagai seorang Mahasiswa en pkerja profesional dengan bejibun aktivitas yang ”itu-itu saja” namun terasa banyak menyita waktu serta kesibukan mahasiswi pasca yang masya Allah diluar prediksi saya sibuknya. Serasa pengen bilang“Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ibuku yang sudah semakin ingin ku berada di rumah, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???

Mencoba menasehati diri sendiri dengan kondisi dan keadaan diri yang tidak menentu, serta fikiran yang sudah muali banyak memikirkan banyak hal. Let’s to brainstrom ur mind mel..

Dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.

Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab “Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”

Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.

Semester satu kemaren nilai saya mungkin tidak sejajar dengan teman-teman S2 dari UGM, sebenarnya alasannya karena menyiapkan acara pernikahan teman yang tergolong mepet waktu perencanaanya, apalagi penetapan tanggal nya dan semua prosesi dadakannya itu berlangsung pas sibuknya pekerjaan. Tetapi dikalangan teman-teman S2 va berkembang rumor, klo aktivis tuh ga terlalu bagus akademiknya, tahu sendiri lah ya anak-anak S2 tentu semuanya jago dan merupakan putra terbaik pilihan universitas asal, maupun dosen terbaik dari asal institusinya, bayangkan saja saya bersejejar dengan mereka. Dan ternyata dari universitas ataupun institusi asal, anak-anak ROHIS ataupun aktivis dakwah semuanya ya gitu ga ada yang menonjol secara akademik. Waktu tahu rumor itu saya agak kaget, saya sadar saya baru saja menambah catatan baru pandangan bagi mereka, aktvis kalah akademik. Whuah… hal ini tidak bisa dibiarkan donk..

Semoga kisah dan cerita saya tersebut tidak terulang kembali di masa mendatang dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewa an yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.

Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata “ Antum telah berguguran di jalan dakwah, atau kata-kata pahit lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri.

Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita. Mulai sekarang tata diri pribadi, menyikapi segala sesuatunya dengan bijaksana dan dewasa, karena hidup cumalah sebentar manfaatkan waktu sebaik mungkin, perbaiki persepsi manusia tentang sisi minus aktifis dakwah, jadikan sebagai motivasi, terus berkarya untuk ummat ini, karena tantangan dakwah di luar sana semakin liar… Sehingga permasalahan internal tidak menjadikan seorang kader bilang “aku ingin cuti dari dakwah”.
www.evans86.cybermq.com\renungan.htm

Label:

Andai Amanah Sepotong Coklat

Amanah sebuah kata yang teramat berat untuk ditulis, mungkin lagi berharu-biru perasaan dalam diri. Amanah, sebuah kata yang dengannya kita bisa menjadi hina dan dengannya juga kita bisa menjadi mulia. Sebuah petualangan yang membawa dan menunjukkan siapa sebenarnya diri kita, karena siapapun dirimu itulah identitasmu. Dalam blognya zam admin SIC yang ia katakan benar, seorang yang berkecimpung di dunia relawan gempa siapa yang ikhlas, siapa, yang pengen benar-benar mewujudkan idealisme sosialnya, siapa yang pengen cari jodoh, semua akan terlihat dari akhir perjuangan, dan bhryoritme gerak yang ia jalani. Saya menganalogikan relawan gempa ini juga sebuah amanah.

Amanah, sekali lagi saudara-saudara ini tentang sebuah amanah. Sehari, seminggu, sebulan, setahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun. Setiap detik dalam diri adalah amanah. Masih ingat dalam surat At –Tahrim : 6 ” Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.. ” . Dan paling urgen dalam hidup ini adalah surat Adz-dzariyat :56 . ” Dan kami tidak menciptakan manusia selain untuk beribadah”.

Yuppi, itu adalah sebuah amanah hidup. Amanah hidup yang mungkin dilupakan oleh semua orang. Terkadang, esensi hidup adalah beribadah sering terkikis aroma sejuk pegasus pagi hari tertiup angan dan mimpi akan kehidupan dunia yang tiada abadi.

Tentang sebuah amanah, yang karenanya kita merasa berarti bagi orang lain. Laksana dakwah Rosulloh dengan sedikit pasukan Alloh, tetapi dengan sedikitnya pasukan Alloh itu mampu menjadi motor bagi perkembangan dakwah beliau kedepan. Ini juga sebuah amanah teman, amanah dakwah yang ada di setiap pundak muslim.

Jika engkau cinta, maka dakwah adalah kenikmatan dalam mengarunginya tak ada rasa penyesalan atau kekecewaan bahkan kegelisahan. Jika engkau cinta, dakwah adalah pengorbanan, pengorbanan usia, waktu, pikiran, dan tenaga. Tidak cuma sebait kata melukiskan betapa berat tanggungan dakwah di pundak kita.

Terinspirasi dari sebuah judul buku andaikan buku sepotong pizza, padahal saya sendiri tidak suka pizza [ maklum orang desa ], saya gubah menjadi andaikan amanah sepotong coklat, kenikmatan yang super dupper lezat, enak, dan bergizi. Tapi sayang, kebanyakan manusia menjadikan amanah adalah sebuah beban, ada yang mempunyai sudut pandang lain?. Dulu, saya beranggapan seperti itu, mungkin akan ada anggapan seperti itu lagi dilain hati, tapi yang jelas pada saat saya menulis tulisan ini, saya tidak berpikir amanah adalah sebuah beban.

Mengintropeksi diri ketika ada di lembaga, jadi tulisan ini tidak lebih dari sedikit curhat. Saya merasa tidak nyaman, ketika teman sekelas mengatai saya anak mushola. Wah panas kalau dekat dengan saya, karena saya dinilai sebagai orang yang alim, ga banyak dosa, ga layak dijadikan tempat curhat, ga enak klo diajak nongkrong bareng, ga mau diajak pergi piknik hura-hura bareng, ga enak kalo diajak main ke pantai bareng, dsb. Membuat saya merasa tersisih dari komunitas ini.

Sebenarnya apa salah saya, jika saya memilih jalan seperti ini, ga ada salahnya bukan?. Walaupun rumor yang beredar anak mushola eksklusif, jangan dekat-dekat orang yang eksklusif, maunya hanya bergaul dengan yang ” setipe” saja. Waduh.. kalau seperti ini kondisinya, kapan dakwah ini bisa menyentuh mereka. Saya tegaskan memang saya anak mushola, tapi saya ga eksklusif kok, kalian bisa bergaul denganku, asal itu sesuai koridor syar’i. Memang petualangan amanah lembaga dakwah berbeda dengan yang lain. Sikap dihindari teman, sikap merasa sendiri, sikap takut dijauhi orang lain, adalah normal adanya jika itu muncul dari dalam seseorang yang ingin melibatkan diri dalam barisan dakwah ini. Aktivis dakwah katanya.

Teringat lagi seorang jundiNya yang berkata, seorang muslim hendaknya menampakkan identitas kemuslimannya, kenapa harus takut di cap ekslusif, kenapa harus takut menjadi jilbaber, kenapa harus takut kalau dicaci ga gaul, kenapa harus malu julukanmu jenggoters, kenapa harus malu ketika nyongklangnya celanamu dipandang suatu keanehan, kenapa harus takut dicaci takut jatuh cinta ketika sedang menundukkan pandangan dengan lain jenis, kenapa harus enggan meninggalkan perbuatan yang sia-sia, kenapa harus malu menjadi orang ” aneh ”. Sedang ummat yang disukai oleh Alloh adalah Al Ghuraba ( orang yang terasing ). Harusnya kamu bangga….!!

Tips menjadi aktivis dakwah, katanya lagi.
1. Sabar
2. Tidak mudah mengeluh
3. berkepribadian islam dan berkepribadian da’i ( Saksiyah Islamiyah dan saksiyah da’iyah )
4. Bergerak dan menggerakkan
5. Move faster. think faster dan Briorhytime
6. Cerdas
7. Paham problematika ummat ( Al fahmu ’alal qodhoyatul ummah )
8. Paham manhaj dakwah
9. Selalu mengejar muwashoffat.
10. Bersungguh-sungguh.
11. Istiqomah

Setahun, dua tahun, tiga tahun berjalan bersama dalam barisan ini diiringi suka duka, onak duri, tetapi banyak sukanya. Dan sekarang pada saya menulis ini, merasa amanah bukan beban lagi tetapi kenikmatan, kenikmatan yang hampir hilang. Disini kudapati orang-orang hebat yang bisa menyalurkan semangat dan aura dakwah yang hebat, sehingga berada diantara orang-orang ini menguatkan dikala lemah, memberantas tuntas segala ketakutan ketika melangkah, memberi keteduhan hati ketika sedang hati sedang kacau, memberi senyuman ketika penatnya matahari menyinari langkah, memberi tatapan sejuk ketika kurebahkan punggungku padanya, menerangi ketika jalan ini masih terasa gelap, memberi ketenangan ketika kusedang galau, mengais napas bersama, menyokong dan terus saling menyokong. Laksana Rosululloh dan Aisyah beserta sahabat lain yang sedang membawa bendera dakwah ketengah gurun pasir arab, yang sedang membutuhkan sebotol air ditengah terik kehausan. Subhanalloh butuh perjuangan yang berat, kompak dan penurunan kebijakan yang strategis.

Setelah tahu seperti ini, baru tahu kalau perpisahan itu sangat menyedihkan, kenikmatan yang selama ini dirasakan akan musnah begitu saja, jalan yang kita tempuh sudah berbeda. Dan tertinggal adalah penyesalan, kenapa amanah adalah sepotong coklat, baru kusadari hari ini, dan akhir-akhir ini. Puji syukur kepada Robb yang masih mengijinkan saya berada diantara mereka, kenikmatan yang mungkin tidak bisa dirasakan orang lain, hanya diriku sendiri. Bersyukur banyak teman yang membina saya menjadi lebih baik dari yang dahulu, insya Alloh.

Robb pada hari ini ingin kuukur kesyukuranku padamu dengan bukti penghambaanku kepadamu, bukan hari ini saja tapi dilain hari pun kuharap Engkau akan selalu menjagaku dikala aku lemah, dikala aku susah, dikala aku tiada lagi teman untuk mengadu. Terimakasih alhamdulillah.. Engkau mengijinkanku berjalan bersama mereka, walau baru kini kubaru bisa menyedari kenikmatan coklat dari sebuah amanah.

Untuk semua pasukan Alloh yang selama ini membuatku selalu kuat menghadapi berbagai aral, kegelisahan karena keterbenturan dengan duniawi, kegalauan akan semua hal, terima kasih episode terindahnya ya… . Semoga ukhuwah ini selalu dikuatkan olehnya dalam bingkai nan indah, dan bersanding selalu di surgaNya kelak. Saya akan selalu menunggumu dan engkau kan selalu menungguku indahnya… Amien..
www.evans86.cybermq.com\renungan.htm

Label:

Senin, 03 Mei 2010

efek bz pulang

senangnya habis pulang kampung,
ketemu ummi yang cantik,
ketemu kakak yang selalu cantik juga,
juga ponakan yang ngangenin,
yang pasti mereka seneng juga setelah hampir 2 bulan ketemu lagi ma cewek cuantiiik yang satu ini,
lebih seneng lagi hapeQ balik lagi,
horeeeeeeeeeeee,
tapi tugas2 yang udah n umpuk sudah menunggu,
no time for senang-senang sebelum kerjaanmu kelar,
semangaaaaaat!