Minggu, 18 April 2010

1 jam dalam hidup naura


Hmm, neh cerpen kenangan waktu SMA dulu, biar bikinnya dadakan, gak nyangka loh juara 2 se SMA, padahal saingannya keren-keren tuh, pengen baca? Tapi jangan ketawa ya, awas loh!

“ Asyik, besok pulang kampung, Umi, Kakak, Farhan, semuanya.. I’m home!”.
Setelah 9 minggu tidak pulang kampung karena padatnya aktivitas di kampus akhirnya naura berteriak lega. Maklum saja, gadis yang nggak pernah bisa nganggur sehari saja di kost-kostannya ini terpaksa menunda agenda rutinannya pulang kampung tiap sebulan sekali karena padatnya agenda di kampus. Setiap sabtu dan ahad berbagai kegiatan tidak ada habisnya. Inilah resiko naura sebagai aktivis yang namanya terpampang di struktur kepengurusan seabrek organisasi di kampusnya dari Himpunan Mahasiswa Jurusan, Badan Eksekutif Mahasiswa, Rohis, Kajian Jurusan, hingga Pers Kampus. Jika bukan karena hari raya Idul Adha kurang 5 hari lagi, naura mungkin harus mengurungkan lagi niatnya berjumpa dengan keluarga tercinta di rumah.
Sepanjang perjalanan naura bersenandung, menyanyikan lagu-lagu pembangkit semangat, album Soutul Harokah, group nasyeed kesayangannya yang disetel dari MP4 bututnya. Tanpa sungkan bersaing dengan pengamen di atas bus yang ditumpanginya, naura bernyanyi keras-keras. Mendengar suara sumbang naura, bapak yang dari tadi duduk di sebelahnya nyeletuk, “ Oalah mbak, cantik-cantik kok suaranya mirip burung Beo di rumah saya”. Merasa diperhatikan, naura malah bernyanyi lebih keras, dia kira bapak tadi senang mendengar suaranya. Tapi, tak sampai satu menit tiba-tiba mas yang sedari tadi mengamen di atas bus menghentikan kegiatan ngamennya dan berteriak, “ Hoy, Mbak, kalo ngamen gantian dong!”.
Setelah perjalanan hampir 3 jam, akhirnya sampai juga dia di kampung tercintanya. Hmm..udara sejuk perkampungan dia hirup dalam-dalam. Beruntung saat itu jalanan sepi. Seandainya ada orang lewat, dari jauh pasti sudah tergopoh-gopoh menghampiri naura. Bagaimana tidak, naura terlalu horor menghirup nafas, bukannya terlihat layaknya orang bernafas, malah lebih mirip orang yang sesak nafas. Segera dia berlari-lari kecil memasuki pekarangan rumahnya yang sering dia gunakan bermain bola di masa kecilnya dulu. What? Bola? Jangan kaget. Gadis manis dengan gamis hijau muda yang rapi menutup auratnya ini berbeda sekali penampilannya sekarang jika dibandingkan dengan masa kecilnya dulu. Mandi di bawah air terjun yang berjarak 1 kilo dari sekolah dasarnya, manjat pohon mangga di belakang rumah, nonton kesebelasan favoritnya beraksi adalah kegiatan wajib masa kecilnya, beranjak di bangku SMA pun tidak jauh berbeda. Selain aktif dengan kegiatan PMR dan theater di sekolah, naura tidak pernah menghentikan ritual wajibnya sepulang sekolah, memanjat pohon jambu di belakang kelas dan memakan langsung jambu tersebut di atas pohon sebagai santapan makan siangnya. “ desert ala naura “, jawabannya ketika teman-temannya menyapa dari bawah pohon dengan “mupeng”, muka pengen.
Namun perubahan besar terjadi ketika naura mulai memasuki dunia kampus, sedikit demi sedikit kebiasaan masa kecilnya dia kurangi. Penampilanpun ikut dia rubah. Perubahan ini terpaksa dia lakukan karena tuntutan pergaulan di kampusnya. Dari setiap penjuru kampus sama sekali tidak dia jumpai ada gadis bergamis lebar sepertinya yang pernah memanjati pohon-pohon di kampus. Pernah sekali waktu dia nekat manjat pohon untuk memasang spanduk kegiatan himpunan di depan jurusannya. Belum sampai spanduk terpasang, seorang gadis yang berpenampilan sama dengannya ( maksudnya sama-sama pake gamis loh ya, bukan sama-sama manjat pohon ) beristighfar keras-keras dan memohon pada naura untuk turun. Satu jam gadis yang biasa naura sapa dengan sebutan mbak Ning itu menasehati naura panjang lebar. Sejak saat itu naura mualai sedikit berubah. Tapi perubahan ini tidak terjadi jika naura sedang di kost. Ketika pohon belimbing di samping kamarnya sedang berbuah lebat, hampir setiap hari naura memanjat pohon tersebut. Jika teman-teman sekostnya protes, naura akan menjawab dengan sebaskom belimbing yang ranum-ranum. Belagak seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya, dengan wajah sumringah teman-teman sekostnya menerima belimbing-belimbing segar tadi.
“ huaa..hyaa..aargh..huaaaa…..”, teriakan farhan dari serambi rumah.
Bunda farhan yang biasa naura panggil dengan sebutan Kak Nadya berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur menghampiri farhan.
Huph..huph.., “ Astaghfirullah, Naura, keponakanmu ini jangan diajak gulat gitu dong!”, kak Nad mendelik sambil menarik farhan dari pelukan naura.
“ Aku kan kangen sama farhan, Kak, aku tadi cuma pengen ngasi pelukan sayang kok”, bela naura.
“ Dia kan masih kecil, meluk anak kecil kok kayak adu gulat gitu!”.
“ hehe..iya dech, Kak. Maapin dech, aku gemes banget sama pipi tembemnya itu loh”.
“ ya sudah, segera ganti baju sana, sudah bau nich..”.
segera naura berlari masuk ke dalam rumah. Kalau mau ke kamarnya dari serambi depan seharusnya berbelok ke kiri, tapi naura tetap berjalan lurus sampai ke belakang. Mau kemana dia? Hmmf, ternyata aroma masakan kakaknya bisa mengalahkan bau pohon asam dari tubuhnya. Segera, sepiring bakwan dia santap habis. Kak nadya yang baru masuk dapur beberapa detik setelah bakwan buatannya itu kandas hanya bisa mengelus dada.
“ selama ada dia di rumah aku harus masak ekstra nich”, gumam kak nad dalam hati.
*****
Setiap hari kerja naura hanya mengusili, farhan, keponakannya yang lucu menggemaskan. Naura baru akan berhenti jika farhan menangis karena perutnya sakit digelitik bibinya yang usil atau sampai kencing di celana ( maklum, kan anak kecil ). Tiap kali kakak atau umi minta tolong naura untuk menggantikan baju, membantu buang air kecil atau besar, membuat susu, memandikan ataupun menyuapi farhan pasti dia mencari seribu satu alasan untuk menolak.
“ Dek, kenapa sich nggak mau bantuin kakak ngurusin farhan?”
“ nggak apa-apa kok, Kak”.
“ kalau nggak ada alasannya seharusnya mau bantuin dong!”.
“ Kan udah ada mbak rani, khadimat baru Kak Nad, ada umi dan mas fadlan juga. Berarti Kakak udah nggak butuh bala bantuan lagi kan..”.
“ Dek, maksud kakak..hmmm..”, Nadya berpikir, bagaimana cara menjelaskannya dengan tepat.
“ Hmm?”.
“ Hmm..hmm..hmm..”.
“ hmm..hmm?”.
“ Kalian ini pada kena sariawan ya?, kok hmm..hmm..terus dari tadi”, umi yang keluar dari kamar ikut bergabung.
“ Bukan Mi, kita bukannya sariawan, kita mau ngomong gaya tarzan, lebih hemat energy loh Mi”, jawab naura asal.
“ Oh gitu ya?, udah nggak kerasan lagi ya di sini?, pengen pindah ke hutan?”, umi nggak kalah asal.
“ Lho iya Mi, bener banget. Enaknya di hutan mau manjat pohon sesukanya ga perlu sungkan-sungkan ditegur pak karyo, ketua RT yang dulu suka senewen liat naura manjat pohon”.
“ Ya pantes dong kalo pak karyo senewen gitu liat Adek manjat pohon, pohon yang Adek panjat pohon mangganya pak karyo yang buahnya bikin adek ngiler itu kan”.
“ Hehe..kayaknya emang gitu dech!”, naura hanya bisa tersenyaum nakal setelah masa lalunya dibongkar umi tercinta.
“ Adek sama Kak Nad lagi ngobrolin apa sich?, kayaknya seru banget”, Tanya umi penasaran.
“ Ini loh Mi, kakak minta tolong adek bantuin ngerawat farhan kok nggak mau, padahal kan tujuannya baik”, kak nad menjelaskan.
“ Hmm, iya nich mumpung Adek lama di rumah kenapa nggak pernah bantuin kak nad ngerawat farhan. Niat kak nad baik kok, Adek kan udah gede, waktunya belajar menjadi lebih dewasa kan. Salah satunya lewat bantuin kak nad ngurus farhan. Adek seharusnya merasa beruntung punya saudara yang mau membantu Adek belajar”, umi menjelaskan panjang lebar.
“ Wah, kalo gitu masih ada kesempatan besok..besok..dan besoknya lagi kan buat naura belajar. Masih risih liat pup farhan. kasian juga kalo naura yang mandiin, nanti badannya bisa lecet-lecet loh. Farhan maemnya susah banget, nanti kalo naura nggak sabar makanan farhan bisa ku lahap habis. Kak Nad dan Umi santai saja, nanti kalo sudah menikah saja ya Naura belajarnya. Kalaupun nggak bisa kan masih ada khadimat hehe..”.
“ Adek pengen nikah berapa tahun lagi?”, Tanya umi.
“ Belum ada bayangan nich, nanti saja kalau naura udah pinter memasak, merawat bayi, ngurusin suami dan memenuhi syarat sebagai istri sholihah”, jawab naura asal.
“ …………………………………………”.
Umi dan kak nad saling berpandangan tanpa bisa menanggapi jawaban naura.

******
“ Aargh..”, teriakan naura dari dalam kamar mandi.
“Adak apa, Dek?”, Tanya kak nad penasaran dari balik pintu kamar mandi.
“ Naura dapet nich, Kak”, naura menyembul dari balik pintu kamar mandi dengan muka manyun.
“ Ooh, gitu aja kok heboh!”.
“ Yach gimana nggak heboh, aku nanti nggak bisa ikutan shalat Ied di lapangan dong, padahal aku sudah booking tempat loh di sana”, jawab naura dengan kesal.
Tiba-tiba kak nad tersenyum nakal.
“ Kok Kakak nggak ikutan sedih sich liat adeknya nggak bisa ikutan shalat?”, naura bertanya heran, adek lagi sedih gini kok kakaknya malah ngetawain.
“ Kebetulan Dek, mbak rani kan hari ini libur pulang kampung. Kakak terpaksa tidak ikut shalat Ied bersama karena harus menjaga farhan. Nah, kebetulan Adek lagi nggak shalat, jadi bisa gantiin kakak jagain farhan dong, OK?”, kak nad menyeringai lebar.
“ Tapi kak..”, naura mencoba mencari alasan.
“ Please Dek, bantuin kakak sekali ini aja, kakak janji dech nanti langsung pulang, paling cuma sejam kok. Kalo ada yang jualan pentol di jalan nanti kakak beliin dech”, rayu kak nad.
Hmm, naura mempertimbangkan tawaran kak nad. Menjaga farhan selama orang-orang di rumah pergi shalat Ied. Hanya butuh waktu paling lama 1 jam. Toh farhan sekarang sedang tidur pulas di kamarnya.
“ Ya, boleh lah Kak, tapi beneran nggak boleh lebih dari 1 jam ya!”, naura menyanggupi dengan syarat.
“ Ok, Sayang”, kak nad tersenyum penuh semangat.
*****
Lima menit setelah kepergian seluruh penghuni rumah, terkecuali naura dan farhan, farhan terbangun dari tidurnya. Naura mulai agak sedikit panic melihat keponakannya menggeliat di atas tempat tidurnya sambil merengek-rengek.
“ Farhan kalau bangun tidur biasanya ngapain ya?, apa aku telpon kak nad saja ya?”, otak naura berputar. Tapi kan kak nad lagi shalat, pasti telpon genggamnya tidak dibawa.
Dalam keadaan bingung, naura mencoba menghibur farhan dengan gerakan-gerakan yang biasa kak fadlan, kakak ipar naura, lakukan untuk menghibur anaknya. Biasanya farhan akan tersenyum geli melihat ayahnya beraksi. Tapi, bukannya senyum farhan malah menangis keras melihat gerakan-gerakan aneh bibinya.
Naura semakin panic, dia berlari ke dapur mencoba membuat sebotol susu untuk farhan. Karena tidak terbiasa membuat susu untuk bayi, naura semakin kebingungan. Dengan gugup dibacanya prosedur penyajian susu di kaleng susu keponakannya. Menunggu kelamaan, tangisan farhan semakin keras. Naura kebingungan memperkirakan air panas dan dingin yang harus di campurkan ke dalam botol. Setelah 10 menit berlalu sebotol susu baru selesai disajikan olehnya.
“ Kak nad biasanya bisa membuat sebotol susu tidak lebih dari 2 menit, ternyata susah juga menyiapkan sebotol susu”, naura merenungkan kejadian yang baru dia alami. Farhan meminum susunya dengan lahap. Kasihan farhan, energinya terkuras habis karena menangis menunggu bibinya membuatkan susu dengan kecepatan 3 kali lebih lambat dari pada durasi sang bibi biasanya makan.
Sesaat setelah isi botol habis, farhan terdiam. Tidak sampai 5 menit terdiam, farhan mulai menggeliat lagi. Kemudian, bisa ditebak. Farhan menangis lagi. Bahkan, dengan intonasi yang lebih tinggi. Naura mulai panic lagi, dicobanya mengangkat farhan dari tempat tidur dan menggendongnya. Tiba-tiba farhan terdiam, 3 detik kemudian “ huoeek..”, farhan memuntahkan seluruh isi perutnya. Stadium kepanikan naura meningkat 2 level, kerudung dan baju keponakannya penuh dengan cairan muntahan.
Dalam keadaan bingung naura mencari baju farhan di almari keponakannya. Dicobanya melepas baju farhan. Karena tidak biasa, naura bingung bagaimana teknik melepas baju bayi seimut ini. Tiba-tiba farhan teriak sambil mendelik, menangis kencang. Naura salah menarik tangan keponakannya, dia tarik ke belakang lalu ke atas. Penuh perjuangan naura melepas baju keponakannya. Setelah berhasil melepas baju farhan, sambil menggendong keponakannya naura memilih baju untuk di pakai sang keponakan. 1 stel baju sudah dia ambil, tapi naura mengurungkan niatnya memakaikan baju pada farhan. Si pipi tembem tertidur pulas dipelukan bibinya, naura tidak tega mengusik tidur keponakannya.
Wajah bayi ini polos sekali, naura memandangi sang keponakan.
“ Maafkan Bibi Sayang, Bibi tidak pernah peduli denganmu”, naura menyesali sikapnya selama ini.
Naura bersyukur Allah menegur dia lewat kejadian yang baru saja dia alami.
“ seandainya tidak disadarkan lewat dirimu, bagaimana nasib sepupumu nanti ya?,” naura ngeri membayangkan jika dia benar-benar akan belajar mengasuh bayi baru setelah punya anak nanti.
Tidak terasa air mata membasahi pipinya, dia menyesali sikap-sikapnya selama ini.
Satu jam kemudian, kakak dan ibunya kembali pulang. Kakak terkejut melihat anak kesayangannya bugil dalam dekapan adiknya.
“ Kak Nad, maafin naura ya, nggak bisa jaga farhan dengan baik meski Cuma satu jam”,naura menatap kakaknya penuh penyesalan.
Kak nad hanya tersenyum melihat adik kesayangannya berubah, dalam benak kak nad, sepertinya akan ada perubahan yang baik untuk naura.
*****
Badan naura masih lemas ketika dia mencoba membuka matanya. Lukman, suaminya masih menunggu di sampingnya sejak persalinannya 5 jam yang lalu.
“ Gimana jagoan kecil kita, Bi?,” Tanya naura tidak sabar ingin melihat anak pertama yang baru dilahirkannya.
“ Alhamdulillah, kita diberi Allah kesatria yang sehat wal afiat, lucu dan menggemaskan,” jawab lukman penuh semangat.
“ Setampan apa anak kita, Bi ?”.
“ Wah, tinggal liat orang ganteng di sampingmu ini, ya seperti ini tampannya anak kita hehe..”.
“ Dasar, nggak sabar nich pengen lihat wajah mungil anak kita”.
“ Sabar ya, Sayang ! “.
“ Oia, umi kan baru pertama kalinya jadi ibu. Pasti berat kalau harus mengurus anak sendiri. Apalagi kita belum punya pengalaman. Bagaimana kalau Abi carikan khadimat untuk bantu Umi?, Abi tidak tega kalau umi nanti kerepotan”, lukman menawarkan batuan kepada naura. Lukman tidak tega jika naura nanti kebingungan merawat bayi baru mereka. Apalagi sebelum melahirkan naura punya seabrek aktivitas. Pasti berat jika harus meninggalkan rutinitas lamanya.
“ Subhanallah, terima kasih suamiku sayang. Beruntung sekali umi dapat suami sebaik Abi. Tapi, jangan khawatir, Bi!satu anak rizqi dari Allah bukan penghalang kita untuk tetap berdakwah. Nggak perlu susah-susah nyari khadimat dech, masalah ngurusin bayi Umi bisa tangani kok”.
“ Wah, Umi belajar merawat bayi dari mana?”, selidik lukman penuh tanda Tanya.
“ Ada dech, rahasia dong!”, naura mengerling pada suaminya.
Terbayang wajah keponakannya, farhan, ketika tertidur dalam pelukannya dulu.

Label:

0 Comments:

    Posting Komentar

    << Home